Rahasia terpendam maestro Lengger Lanang Banyumas


Merdeka.com – Sepekan sebelum dijemput ajal, maestro seni tradisi Lengger Lanang Banyumas, Dariah, tiba-tiba menyebut nama Dewi Sekar Melati. Nama itu terdengar asing di telinga seluruh anggota keluarga yang tengah berkumpul di dalam kamar Dariah. Di masing-masing benak mereka, timbul tanda tanya serta ketidak pahaman.

Waktu itu, matahari pagi mulai terasa panas di Dusun Gelaran Desa Plana Kecamatan Somagede. Pada cucunya, Nur Kholifa (40), Dariah mengulurkan tangan memberi sebatang kunci yang ia ambil dari lilitan centing (stagen). Dariah meminta tolong, agar Kholifa membuka laci di dalam almari.

Untuk pertama kalinya sepanjang hidup mereka, setiap anggota keluarga melihat isi lemari milik Dariah. Tak ada yang mengherankan, hanya tumpukan-tumpukan pakaian. Tapi ketika laci dibuka terlihat buntalan kain, di dalamnya tersimpan 3 batu kecil warna hitam.

Meringkuk di ranjang, Dariah meminta agar buntalan kain beserta isinya dibuang hari itu juga ke sungai. Dariah juga berpesan, sebelum dibuang, Kholifa mesti berujar dalam hati bahwa pemiliknya sudah tak sanggup merawat lagi Dewi Sekar Melati. Permintaan yang menimbulkan keheranan, tapi dituruti oleh Kholifa tanpa bertanya.

“Kami sekeluarga tidak pernah tahu uwak (panggilan untuk kakak ayah atau ibu) menyimpan barang itu. Mungkin jimat. Uwak selama ini selalu membawa kunci lemari itu ke manapun,” kata Nur saat ditemui merdeka.com di kediaman Dariah, Selasa (13/2).

Asal usul buntalan berisi batu itu tetap jadi misteri yang dibawa Dariah sampai ia berpulang pada Senin (12/2) dini hari pukul 01.00. Ia tutup usia pada umur 97 tahun. Bernama asli Sadam tapi lebih akrab disapa Dariah, ia sejatinya berjenis kelamin laki-laki. Tetapi dalam kesehariannya sejak ia memutuskan jadi lengger selalu berpakaian selayaknya perempuan.

Kholifa lantas melanjutkan cerita, sejak buntalan kain itu dibuang, ia melihat ada perubahan pada sosok Dariah. Jika sebelumnya Dariah nampak berperilaku selayaknya perempuan, menjelang kematiannya ia kembali sebagai lelaki. Kholifa sulit untuk menjelaskan persis, tapi ada perubahan dalam karakter suara juga perangai yang tak lagi luwes seperti biasa.

“Mungkin saja, Dewi Sekar Melati itu indangnya (roh lengger) uwak. Setelah dibuang, uwak sudah terasa pasrah dan tak punya beban lagi,” ujarnya.

Tindak tanduk Dariah selama ini, diceritakan menantunya, Sunu Sumarto (60) memang tak pernah bercerita tentang benda-benda gaib. Jika pun akan pentas melengger diundang ke suatu tempat, kebiasaan Dairah yang ia amati yakni berdoa di luar rumah. Ia biasanya berdiam diri sesaat, komat-kamit, dengan bergantian menghadap pada empat penjuru mata angin atau kiblat papat lima pancer sebagaimana disebut Dariah.

Mertuanya itu juga tak pernah menyinggung menyimpan benda-benda tertentu di dalam rumah. Ia lebih sering terlihat merawat sanggul, baju, selendang, jarik dan aksesori perhiasan untuk melengger yang lantas disimpan rapi dalam tas. Suasana yang paling khas dan bakal sulit dilupakan, Dairah kerap melantunkan tembang-tembang Jawa di dalam kamar.

“Uwak memang amat hati-hati jaga barang. Orang lain enggak boleh menyentuh. Piagam penghargaan dan buku dari pemerintah sampai ia keloni,” ujarnya mengenang.

Tapi ada keyakinan di dalam diri Sunu, bahwa mertuanya memang punya kelebihan. Ia mencontohkan bila menemani mertuanya ke tanggapan lengger selalu kewalahan, sebab berjalan kaki dan memanggul bawaan. Dari cerita-cerita yang ia dengar, Dariah di masa remajanya juga kerap berkelana menimba ilmu lengger ke tempat-tempat yang dikeramatkan.

“Dia itu memang mendapatkan indang. Sejak kecil ia sudah pandai menari, luwes melebihi perempuan,” ujar Sunu.

Lengger sendiri, menurut peneliti seni tradisi, Sunaryadi dalam buku Lengger Tradisi & Transformasi (2000. ISI Yogyakarta) mengatakan ada dua kemungkinan timbulnya kesenian lengger. Ada yang menyebut kesenian ini berasal dari daerah Jatilawang di Banyumas dan sebagian lain menyebut berasal dari Mataram masuk ke Kalibagor Banyumas tahun 1755. Lengger sendiri meski ada perbedaan istilah di masyarakat, hal yang hampir seragam merujuk pada seni tari yang di atas panggung seakan-akan dimainkan penari perempuan tapi sebenarnya laki-laki.

“Dikira leng ning jengger, dikira lubnag tetapi jengger, dikira perempuan ternyata laki-laki,” tulis Sunaryadi dalam bukunya.

Di kehidupan kesenian Lengger, memang pernah ada kepercayaan terhadap hal-hal supranatural. Semisal syair tembang, yang lebih tepat disebut mantra untuk mendatangkan roh halus sebelum pementasan dimulai. Di pementasan lengger sendiri juga dikenal pola lantai berpedoman kiblat papat lima pancer, konsep alam yang dikelilingi samudera dan pulau di empat penjuru sebagai tempat tinggal yang dikeramatkan.

Untuk menjadi lengger sendiri, selain berguru ada yang disebut memperoleh indang. Dijelaskan Sunaryadi, mendapat indang seseorang bisa melakukan tarian dan menembang tanpa belajar. Jika indang lengger telah masuk ke dalam raga seseorang, maka tidak ada yang dapat menolaknya. Ini berarti anak tersebut memang digariskan menjadi lengger.

Mendiang Dariah adalah sosok yang dipercaya mendapat indang dan digariskan nasibnya menjadi lengger. Dariah sendiri sepanjang hidupnya memang terbukti menghayati kesenian lengger begitu dalam dan tak pernah berhenti menari dan menembang sampai ajal mendekat. Indang yang dimaksud mungkin saja adalah Dewi Sekar Melati yang ia sebut-sebut di akhir hayat, tak ada kejelasan yang pasti, misteri itu tetap dipendam oleh Dariah. [cob]


Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *