Jejak Suliono, gagal ke Suriah hingga serang gereja di Sleman


Merdeka.com – Suliono, pelaku penyerangan Gereja Santa Lidwina Begod, Sleman, DIY diketahui suka berpindah tempat. Jejak mahasiswa asal Banyuwangi tersebut pernah terlacak di Poso, Sulawesi Tengah, Magelang dan terakhir di Yogyakarta.

Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian menduga kuat Suliono memiliki paham radikal. Bahkan dia pernah berencana untuk pergi ke Suriah namun gagal. Setelah rencananya tidak terealisasi, Suliono diduga akhirnya melakukan aksi teror terhadap orang-orang yang dianggapnya kafir.

“Dia pernah mencoba membuat paspor untuk berangkat ke Suriah tapi tidak berhasil, akhirnya dia menyerang kafir versi dia,” kata Kapolri di Polda Metro Jaya, Senin (12/2). Dikutip dari Antara.

Suliono tercatat sebagai warga Krajan RT 02 RW 01 Kandangan, Pesanggrahan Banyuwangi, Jawa Timur. Dia yang hendak pulang ke kampung halaman, menyempatkan diri singgah di Yogyakarta.

Selama lima hari di Kota Gudeg ini, Suliono menginap di masjid dan musala. Hingga akhirnya dia menjual handphone untuk membeli pedang yang dipakai saat menyerang gereja, Minggu kemarin.

“Sementara memang ada keterangan awal pelaku menjual ponselnya untuk beli pedang,” ujar Kapolda DIY Brigjen Pol Ahmad Dofiri di Mapolda DIY.

Suliono kini masih dirawat di rumah sakit. Polisi belum maksimal mengorek informasi. Terlebih pelaku baru saja menjalani operasi pengangkatan peluru yang bersarang di lutut.

Jenderal polisi berbintang satu ini menuturkan pihaknya sejauh ini sudah memeriksa 11 orang saksi. Pemeriksaan dilakukan untuk mengetahui kegiatan pelaku sebelum melakukan tindakan penyerangan.

Terpisah, Aiptu Al Munir, anggota Polsek Gamping, Sleman yang melumpuhkan Suliono bercerita, dia bersama dua rekannya, Brigadir Erwin dan Aiptu Praswanto bergegas ke gereja setelah mendapat laporan adanya penyerangan.

Begitu tiba di lokasi, jalan di depan Gereja Santa Ludwina sudah macet. Orang-orang sudah keluar berhamburan di jalan. Mobil patroli tak bisa mendekat ke Gereja Santa Ludwina.

Munir pun kemudian berlari masuk ke dalam gereja. Seorang pemuda sedang mengayun-ayunkan pedangnya nampak jelas di depannya.

“Saya polisi. Diam di tempat. Jangan bergerak,” kata pria berumur 57 tahun ini berusaha memperingatkan pelaku penyerangan gereja saat itu.

Bukannya takut, Suliono justru mencoba mendekati Munir sambil membawa pedang. Dor! Sebuah tembakan peringatan pun dilepaskan Munir. Bukannya menyerah, Suliono justru makin beringas.

“Pelaku menyabetkan pedang ke tangan kiri saya. Saya tembak kaki kirinya. Pelaku kemudian menyabetkan pedangnya. Kena kelingking kaki saya. Kemudian saya tembak lagi di kaki kanan. Pelaku jatuh dan mendorong saya. Pelaku sempat akan menyabetkan pedangnya ke badan saya tapi saya tarik kakinya,” cerita bapak dua anak ini.

Melihat pelaku yang sudah jatuh, kedua rekan Munir pun coba meringkusnya. Dibantu jemaat Gereja Santa Lidwina lainnya, pelaku akhirnya berhasil diringkus.

Pelaku pun kemudian diamankan oleh petugas dan dibawa masuk ke dalam mobil patroli. Pelaku kemudian dilarikan ke RS Akademik UGM untuk mendapatkan perlawanan.

Munir mengaku keberaniannya melumpuhkan Suliono muncul karena aksi penyerangan dianggapnya sudah membahayakan banyak orang. Selain itu, saat diperingatkan, Suliono justru semakin beringas dan memburu dirinya.

“Waktu saya tembak jaraknya hanya sekitar dua meter. Saya berhadap-hadapan dengan pelaku,” ujar Munir.

Insiden penyerangan ini membuat empat orang terluka, yaitu Romo Pier, Yohanes Triyanto warga Nusupan, Mukarto warga Nogotirto dan Budiono. [cob]


Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *